Februari 16, 2011

Karma


















Seperti bayangan cermin yang balik menohok,sesuai tapi lebih sakit.
Aku harus mengakui kekhilafanku dulu,kebebasan berfikirku saat dikurung kesendirian.
Gambaran diri yang rentan cinta,mudah terpesona tapi tak mendapati wanita yang dicintai.

Aku menjadi penggenap surga,pujangga yang membuai rayu tapi minim eksistensi rasa,pemendam ulung rasa suka.
<!-more> 


Menyimbolkan kesendirian dalam palang empat kebebasan,merasa terbangkan beban tanpa ikatan,hanya tanpa lelah mengumbar perhatian.
Sungguh cara menikmati sepi yang begitu berseni,secara status aku sendiri,tapi menjadi pemerhati ulung para bidadari,muncul tiba-tiba sedemikian rupa ketika mereka terseka duka.

Kini masa lalu itu menamparku,menyerang balik tepat di sekat leherku,menghentakkan jantungku.

Aku dikenalkan pada karma,pengungkapan kesalahan masa lampau,dengan aku sebagai korbannya,the actor become a victim.

Ketika asmara berliuk melenggang indah disampingku,ular-ular berdatangan menjulurkan lidahnya,seakan mengancamku dengan taringnya.

Aku di dera takut,kehilangan perempuanku yang ku bingkai manis di dinding hati.

Seorang pemuda kencur merisaukan sikapnya,geraknya diintai laksana mangsa,bergalon perhatian dihujankan kepadanya.

Aku seperti bercermin pada diriku dulu,yang bebas dalam dunia tanpa ikatan cinta mencinta.

Perempuanku bersikap layaknya pecinta sejati,memaku hatinya lebih dalam,menyematkan hiasan indah,dan menuliskan namaku sebesar-besarnya dalam batu pualam indah kehijauan.

Aku dipilihnya untuk cinta,untuk masa depan,dan InsyaAllah dunia akhiratnya.

Dia perempuan terindah yang pandai mencintaiku..

Published with Blogger-droid v1.6.5

Tidak ada komentar: