Setelah berjalan sejauh ini, semua kesendirian serasa menggerogoti. Ingin rasanya menemukan arti lebih, selalu melihat kehadiran sejati, dirimu yang kucinta dari hati, sampai mati. Dirimu yang menyapu indah di hidupku, merebahkan pohon usang kepenatanku, menghadirkan kembali benih-benih harapan bunga mawar kasih berwarna putih, aku benar-benar merindumu.
Sayang, coba dengarkan aku bernyanyi. Tapi bukan sebuah lagu indah, hanya ratap tangis yang menderu memelodikan 3 kata sendu "AKU RINDU PADAMU", tanpa gitar pula, karena tak kutemukan Chord yang tepat untuk mengisi kekosongan hati yang tertinggal bayangmu di seberang negeri. Haaaah... Apa tak ada pintu kemana saja, agar aku mampu memberi apa yang kau pinta, agar kita mampu merajut cinta, atau sekedar datang dikala gelap meninabobokkan jangkrik dan katak, agar kau tertidur pulas, tanpa harus mendengar ocehan binatang-binatang malam yang malas. Aku yakin, kaupun terkena insomnia akut, susah memejamkan mata dan tertidur, karena aku tak ada di sisimu untuk mencium kening dan mengucap selamat tidur.
Huh…Hari ini bakal berganti, saat-saat seperti ini akan cepat berhenti, kita akan segera bertatap hati dan kerinduan ini akan mati. Kata-kata itu yang selalu menguatkan kita, menafikkan jarak yang menggoda kita untuk menangisi nasib dan mengkhianati takdir, tetap setia dalam genggaman tanganku dinda. Setiap ada yang menggoda, kau tatap langit dan ucapkan sabda setia. Aku akan mendengarnya dari sudut fana, dan akan menjawabnya dengan beribu rayu pujangga. Akan ku bungkam dunia dengan cium mesra, pelukan mengalahkan hangat mentari mendera. Sabar dinda sayang, pertemuan itu tak akan lama, tak terhitung bulan untuk cinta. Tak terbilang hari untuk sebuah janj. Dan akan kukalahkan detik demi Perempuanku Tercantik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar