April 07, 2010

I Feel The Empty, I Could See The Sign...


-->
Untuk ketiga kalinya aq merasakan seperti ini, kekosongan, kesepian dan tanda-tanda akan ditinggalkan. Jika kalian sangsi, apakah Gibran menangis saat Selma Karamy berdiri di altar pernikahannya?? Jika kalian ragu apakah Romeo menangis di hadapan jasad Juliet, sebelum dia menelan racun?? Aku tak pernah ragu, mereka menangis. Jika hanya ada hampa, kalau hanya ada sepi apa yang lebih indah dari air mata, jika kau tak menginginkan kematian. Sudah dua kali aku merasakan kekosongan yang sangat seperti ini, ditinggal dan didiamkan untuk beberapa lama, dan akhirnya ditinggalkan untuk selamanya oleh CINTA. Sungguh aku tak pernah menyangka akan menjadi ke tiga kalinya.
 
Ketika tanda-tanda itu datang, adalah ketika aku tak mampu lagi menegakkan kepalaku dengan cinta, ketika kemurungan menjadi kandang segala macam kesedihan. Aku merasakannya lagi sekarang, persis 4 tahun yang lalu saat Selma-ku meninggalkanku, dan sama seperti 2 tahun yang lalu, saat sahabat yang berarti berpaling untuk pergi dan berharap tak mengenalku lagi. Aku benar seorang bodoh yang beruntung. Aku bisa menciptakan 2 episode cerita yang sama dengan pemeran dan alur yang berbeda. Tunggu, mungkin sebentar lagi akan menjadi 3, dengan peran protagonis yang sangat berbeda pula.
Ini bukan lagi cerita tentang kekasih hati atau sahabat sehati, kisahku kali ini sebuah elegi cinta tanpa balas yang sangat kunikmati, sebuah harapan yang diadu dengan keras hati dan entah alasan apa lagi. Yang pasti aku terlanjur begitu mencintai. Bodoh... bodoh.. bodoh. Seperti keledai yang jatuh dilubang yang sama, tapi dengan bagian luka yang berbeda.
Dan Ya Allah, apakah tawakalku pada-Mu itu berarti aku menyerah. Di dua cerita sebelumnya, aku selalu kehilangan saat aku sangat berserah padamu, saat aku mengucapkan mantra klise “berikan yang terbaik untuk kami berdua”, dan Kau menunjukkan jalan terang yang terlihat gelap, menyuguhkanku jawaban yang serta merta menjadi pertanyaan. Apakah saat aku berdoa akan jalan terbaik, itu berarti aku menyerah dan pasrah mengakui bahwa aku bukan yang terbaik. Ya Allah begitu misterius jalanmu, begitu berbeda arti ‘terbaik’-Mu dengan harapan ‘terbaik’ku. Kuatkan aku jika memang Kau memilihku untuk ketiga kalinya menjalani yang ‘terbaik’-Mu.
Sekarang aku bersiap untuk yang terburuk. Mematikan pelita harapan dan beranjak dari perjalanan berjuang untuk cinta tak terbalas, cinta yang tak kumengerti menjadi sangat berarti. Cinta yang memberiku kisah baru, dengan ending yang sama. Cerita yang mungkin akan memberi pelajaran yang berbeda, tapi tetap dengan air mata dan kebekuan yang sama.
I’am ready to lose you ...

Tidak ada komentar: