April 18, 2010

Confession


-->
Di laju kereta Senja itu, rasanya ingin ku benamkan jauh kemarahanku. Kutabrakkan pada dinding gerbong yang entah kenapa seperti sekat2 mimpi buruk yang menbuatku takut sekedar menutup mata sejenak menggenapi pukul 5 pagi. Aku tak mungkin marah padamu, karena tak sejengkalpun kau punya salah. Tapi cinta mana yang tak marah saat harapnya memudar dan hilang seketika, saat mimpi berubah drastis menjadi elegi.

Kebodohanku menyimpulkan sebuah kasih hanya sebaris perhatian pesan dan rutinitas cerita pengantar tidurmu. Bodohnya aku merasa hal itu telah cukup... Kecewa pada mindset pikiranku, terlalu mudah aku jatuh dan begitu dalam aku bermimpi. Aku menganggapmu seindah-indahnya bidadari, tapi bagimu aku tak lebih dari teman main gundu yang sering menyebalkan.
Perih itu mengerikan, dikalahkannya maskulinku dengankesedihan, disayatnya tangguhku dengan pilu. GILA!!! Aku benar-benar menyayangimu. Maaf karena aku tak punya air mata, tapi asal kau percaya ada berpuluh bendungan di kelopakku yang ku tahan dengan sisa-sisa rasa maluku. Aku tak ingin meluapkannya untuk sesuatu yang bodoh menurutku.. Aku sedih untukku pribadi, karena mencintai orang yang salah dengan cara yang keliru pula.
Enam jam sama artinya dengan 6 musim hujan waktu itu, Gambir-Soekarno-Hatta semacam jarak terjauh menunjuk sebuah bintang. Diamku mengambang di lembayung pagi Jakarta, membisukan lagi ibukota yang hampir tebangunkan cacian “i hate Monday”. Aku luruh dalam suara merdu Tantri (KOTAK) membisikkan lagu “pelan-pelan saja” lewat tangkupan headset dikupingku tak kurang dari 16 kali. Dan dunia memang terasa melambat pelan berputar bagiku.
Jika ada yang bertarung dalam perenunganku, itu adalah aku yang masih saja kesal dengan kebodohanku. Butuh 6 hari merenungkan 6 menit alasanmu kenapa tak mampu mencintaiku, hingga tak kusadari telah menghilangkan kunci pertemanan dan tali silaturahmi. Mungkin aku telah sembuh, tapi sembab hati ini masih terlihat jelas. Aku tak akan pernah bisa membencimu, karena seberapa keras aku coba membencimu,becoz it’s true, i do love you...
Satu yang kudapat dari semua itu adalah rasa ikhlas mencintaimu, agar aku tak lagi menyalahkan kebodohanku sendiri. Rasa ikhlas melepaskanmu, agar aku bisa melanjutkan hidupku. Rasa ikhlas melihatmu bahagia, agar kita masih bisa berteman lagi. Dan rasa ikhlas mengakui kekalahanku, karena aku yakin...
*God knows the good ones for everyone of us

Tidak ada komentar: