
Aku bisa menjadi telingamu, mendengar bagaimana deru badai telah menghantammu dulu. Deru badai yang menyisakan puing berserak yang tak satupun mau memungutnya kecuali korban selamat yang terluka sangat dalam, luka dalam fisik dan psikologi perasaan. Aku pun tak kau perbolehkan membantu mengumpulkannya, jadi aku berusaha jadi batu besar yang diam kau caci atau kau bagi kesedihan, karena aku tak bisa menjadi sapu atau pengki tanpa seijinmu. Batu ini tidak akan menangis, bukan karena batu benda mati, tapi batu ini tak ingin menggoyahkan kembali keraguanmu, batu ini ingin kaupun setegar dirinya. Yang tabah menghadapi hidup dan kokoh melawan kesedihan.
Kisahmu itu, aku tak pernah tahu. Bagian dari hidupmu yang kau privatisasi sendiri, kau tutup dengan seyum dan kau timbun dengan rutinitas. Itu semua cerita yang seru, haru biru, dan akan selalu jadi hantu. Kau sungguh bisa menjadi egois untuk dirimu sendiri, jangan tersinggung, karena itu lebih baik dari pada kau membagikan kepada orang lain apa yang mereka sama sekali tak tahu. Jujur, berat mendengar kau bertutur semua itu, karena satu sisi hatiku adalah cinta untukmu dan satu sisi lain adalah harapan yang masih menggelora untuk bersamamu. Meski aku tahu bagaimana menghargai keterbukaanmu dengn sikap seorang sahabat yang kau percaya. Aku bisa mendengarnya, merasakannya, meski tak sepenuh hati.
Selesai kau bercerita, bolehkan aku bercerita??? Bolehkan ku bagi kue terindah dari masa laluku yang sudah mulai usang oleh sarang laba2 di dinding waktu. Aku hanya ingin bercerita bahwa aku pernah mencinta satu hati, aku tersakiti, aku jatuh, dan aku bangkit (meski bukan atas nama cinta, melainkan KEDEWASAAN). Aku mendengar ceritamu mengalun indah dengan ukuran waktu yang sangat panjang kau berbicara, bandingkan dengan ceritaku yang tak pernah aku panjangkan, karena saat kenangan itu kita perlebar, maka satu bagian bekas luka akan terbuka kembali, dan satu tetes air mata pasti tak terbendung. Oleh karenanya aku merangkum ceritaku dengan bahasa sederhana, akhirnya lukaku mengering dan tak berbekas.
Jika telah lama kau bungkus luka itu, tentunya sekarang sudah mengering. Yang perlu kau lakukan adalah jangan terlalu sering kau melihat bekasnya, karena itu bisa membuat lukamu terbuka kembali..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar