Jaman Majapahit memang sudah berakhir,tidak ada lg Patih Gajah Mada yg berwibawa atau Hayam Wuruk yg bestari bijaksana. Perang bubat menjadi awal runtuhnya martabat Gajah Mada dan remuknya wibawa Majapahit hingga digerogoti pemberontakan yg membawa kehancuran wangsa panguasa. Sesungguhnya tiada niatan bagi sang raja (Hayam Wuruk) untuk menyulut sekam dihati kerajaan Sunda Galuh,bijaksananya membawa serta nafsunya berkeinginan menyatukan 2 kerajaan dengan menyatukan hati mempersunting sang putri raja ...... Tapi apa ayal niatan itu dipandang seorang patih ambisius,untuk menegaskan sumpahnya utnuk menggenggam semua nusantara dibawah panji Majaphit. Negara Sunda Galuh mjd salah 1 wilayah yg tak tunduk hormat pd Majapahit. Dan rencan yg berawal damai dan indah dengan pesta pernikahan menjadi binasa dengan pembantaian para utusan kerajaan Sunda Galuh oleh para sandi bentukan Sang Patih,dan diakhiri dengan pati-nya Sang Putri dengan tusukan tangannya sendiri.
Dan seakan menjadi tradisi,dendam adalah bahan pengawet sempurna atas kejadian di atas. Tidak mungkin ada seorang dr Jawa Timur (daerah kekuasaan Majapahit) dengan seorang dr tataran Tanah Sunda (yg dahulu dikuasai kerajaan Sunda Galuh). Bukan hanya jaman kerajaan,hingga jaman pesatnya teknologi,msh ada wejangan dan ancaman dr buyut,mbah,bapak,paman kepada para keturunan mereka untuk tidak berangan mempersunting atau bersanding dengan lanang/wadon atau jaka/awewe dr kedua daerah tersebut. Ironi menarik selalu menggelitik untuk dijadikan judgment terhadap sebuah peristiwa.
Adalah hati yg merasakan cinta,dan adalah cinta yg memuaskan manusia. Sahabatku ini dimabuk rasa,bergelora melintasi jarak dan budaya,mengais asa menyunting gadis sunda. Sempat terbesit tanya,adakah dia sbg keturunan timur jawa,mengejawantahkan mitos atau justru menafikkannya?? Sebagai sahabat aku mempertanyaknnya,dan sebagai sahabat pula dia menjawab bhw dia menafikkannya. Menjadi menarik ketika cinta tak berujung bahagia,meski sedih melihatnya merengkuh serpihan putus asa. Dia telah jauh melangkah dengan etika,berjuang dgn berbekal tata krama,meminta dengan halus pd sang rama. Entah hujan dr arah mana,petir yg diam berubah kilat menyala nyala. Nyalinya berontak dengan keputusan sang dara,mempertanyakan berkali kata,namun jawab tetap sama dengan yg pertama,dia tetap bersama kata orang tua. Dan itu menghancurkan impian sahabatku tercinta.
Mungkin masa lalu mengutuknya diam-diam,memuntahkan dendam pada penerusnya yg kesekian. Seperti mimpi ketika mendengar pengakuan sahabatku,dia telah jatuh setelah dia berangan tinggi. Bukan hanya sakit yg dia sesali,tp ketiadaan keberanian dr sang gadis untuk berjuan dalam cinta mereka. Dipisahkan kehendak orang tua mungkin tidak terjadi dalam perang bubat,tp kutukan beda budaya dan dendam kesumat atas beberapa nyawa, ini kutukan Majapahit.
Published with Blogger-droid v2.0.4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar